Saturday, May 28, 2011

etika komunikasi organisasi dan kelompok

A. PENGERTIAN
Pada pengertian yang paling dasar, etika adalah sistem nilai pribadi yang digunakan memutuskan apa yang benar, atau apa yang paling tepat, dalam suatu situasi tertentu; memutuskan apa yang konsisten dengan sistem nilai yang ada dalam organisasi dan diri pribadi. Dalam membahas etika dalam organisasi, sejumlah pakar membedakan antara etika perorangan (personal ethics) dan etika organisasi (organizational ethics).
? Etika perorangan menentukan baik atau buruk perilaku individual seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dalam organisasi.
? Etika organisasi menetapkan parameter dan merinci kewajiban – kewajiban (obligations) organisasi, serta menggariskan konteks tempat keputusan – keputusan etika perorangan itu dibentuk (Vasu, Stewart dan Garson, 1990).
B. ETIKA KOMUNIKASI ORGANISASI
Para peneliti dan konsultan organisasi menganalogikan bahwa organisasi adalah bagian dari sebuah budaya yang memiliki komponen-komponen berupa nilai dasar organisasi, asumsi yang diterima, kaidah pengambilan keputusan, gaya manajerial, cerita kesuksesan dan keberhasilan, makna tradisi dan loyalitas, serta topik dan metode komunikasi yang diterima. Dalam berkomunikasi harus mempertimbangkan pendekatan positif tentang moral dan etika penyampaian informasi oleh individu maupun oleh organisasi itu sendiri dalam hubungannya dengan individu lain maupun dengan organisasi lain.
Masalah etika selalu muncul dalam situasi yang melibatkan orang lain, tetapi seringkali organisasi lebih banyak menyoroti masalh etika ini daripada pihak – pihak lainnya. Pelanggaran terhadap etika yang telah diterima secara umum merupakan masalah yang harus diwaspadai dalam organisasi. Bagi sebagian orang perilaku etis dalam organisasi tidak selalu penting. Charles Saxon, kartunis majalah The New Yorker, menerbitkan serial kartun bisnis berjudul “ kejujuran adalah salah satu kebijakan yang lebih baik”, Tampaknya Saxon berpendapat bahwa dikusi etika dalam organisasi bisnis diperlukan, dan mungkin bermanfaat bagi kita untuk mempelajari beberapa masalah etika dalam konteks pembuatan keputusan mengenai pekerjaan dalam organisasi. Bidang karier apapun yang anda putuskan untuk anda tekuni, pasti mencakup sejumlah dilemma dan paradoks mengenai etika kehidupan yang sesunguhnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan etika ? Sekelompok teoritis (Solomon & Hanson, 1985) mengemukan bahwa etika berkaitan dengan pemikiran dan cara bersikap, pemikiran mengenai etika terdiri dari evaluasi masalah dan keputusan dalam arti bagaimana kedua hal ini memberi andil pada kemungkinan penigkatan seseorang seraya menghindari akibat yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Perilaku etis berhubungan dengan tindakan yang sesuai dengan keputusan yang relevan, yang sejalan dengan seperangkat pedoman yang menyangkut perolehan yang mungkin dan akibat yang merugikan orang lain.
Masalah etika dalam organisasi dapat dibagi dalam dua kategori :
1. yang menyangkut praktik – praktik organisasi di tempat kerja, dan
2. yang menyangkut keputusan perorangan
Praktik – praktik Organisasi
1. Rasa hormat, martabat, dan kebebasan perorangan. Masalah ini berhubungan dengan cara organisasi memperlakukan anggotanya. Dari sudut pandang sebagian besar anggota oraganisasi, kepentingan organisasi didahulukan dan kepentingan anggota dijadikan yang paling akhir.
2. Kebijakan dan praktik personel. Masalah ini berkenaan dengan etika kepegawaian, pemberian gaji, kenaikan pangkat, pendisiplinan, pemberhinetian dan masalah pension anggota organisasi. Kewajiban umum organisasi adalah berlaku adil pada anggota organisasi yang prospektif disetiap jenjang karirnya.
3. Keleluasaan (privacy) dan pengaruh terhadap keputusan pribadi. Perjanjian eksplisit dan implicit antara pegawai dengan organisasi yang memperkerjakan mereka, memberi peluang kepada organisasi untuk memperhatikan faktor – faktor yang secara jelas mempengaruhi prestasi kerja pegawai. Namun masalah etika muncul bila organisasi menaruh perhatian khusus pada masalah kehidupan pribadi anggotanya yang tidak secara langsung mempengaruhi prestasi kerja mereka dalam organisasi, misalnya segala sesuatu yang terjadi selama cuti yang mungkin mempengaruhi citra organisasi, keikutsertaan dalam masalah – masalah public seperti kegiatan masyarakat dan organisasi pelayanan, kontribusi pada badan – badan amal, dan keterlibatan dalam kelompok kegiatan politik.
ETIKA KELOMPOK

A. Definisi etika komunikasi.
Belum ada secara pasti definisi yang tepat dalam menggambarkan apa itu etika komunikasi. Bila dilihat dari terminologinya, Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan. Sedangkan, komunikasi menurut Prof. Onong Cahyana Effendi Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).
Maka bisa disimpulkan dari terminologi diatas, etika komunikasi dikaitkan dengan watak atau kesusilaan yang menentukan benar atau tidaknya cara penyampaian pesan kepada orang lain yang dapat mengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik secara lisan ataupun tidak langsung. Etika yang akan dibahas pada bab selanjutnya berkaitan dengan etika komunikasi dalam kelompok. Namun, sebelum kita membahas langsung mengenai ulasan etikanya kita akan terlebih dahulu memahami mengenai sifat komunikasi kelompok.

B. Sifat Komunikasi Kelompok
Bila dibandingkan antara komunikasi antar pribadi dengan komunikasi kelompok memiliki persamaan. Kedua bidang tersebut ,memiliki kesamaan dalam hal keterlibatan pelaku komunikasi, baik komunikasi antarpribadi maupun komunikasi kelompok melibatkan dua atau lebih individu yang secara fisik berdekatan dan yang menyampaikan serta menjawab pesan – pesan baik secara verbal maupun non verbal. akan tetapi, ada yang membedakan antara komunikasi antarpribadi dengan komunikasi kelompok. Komunikasi antarpribadi biasanya dikaitkan dengan pertemuan antara dua, tiga, atau mungkin empat orang yang terjadi secara spontan dan tidak berstruktur, sedangkan komunikasi kelompok terjadi dalam suasana yang lebih bertstruktur di mana para pesertanya lebih cenderung melihat dirinya sebagai kelompok serta mempunyai kesadaran tinggi tentang sasaran bersama. komunikasi kelompok lebih cenderung dilakukan secara sengaja dibandingkan segan komunikasi antarpribadi, dan umumnya para pesertanya lebih sadar akan peranan dan tanggung jawab mereka masing-masing. dalam kelompok tatap muka yang lebih besar dan kelompok-kelompok tersebut lebih bersifat permanen daripada kelompok-kelompok yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi.
Dengan demikian kriteria pokok dalam membedakan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi kelompok adalah kadar spontan,strukturalisasi, kesadaran akan sasarana, ukuran kelompok, relativitas sifat permanen dari kelompok serta identitas diri.


BAB II

A. Suasana Etika Komunikasi
Jenis suasana keetikaan yang ada dalam suatu organisasi atau kelompok mempengaruhi pertentangan etika apa yang dipertimbangkan, proses untuk menyelesaikan konflik, dan karakteristik penyelesaiannya. Sejumlah elemen dikemukakan bahwa, secara besama – sama, akan meningkatkan pengembangan suasana keetikaan yang sehat, bersemangat.

B. Standar Etika Komunikasi Kelompok
Kini kita beralih kepada perangkat-perangkat kriteria etika yang secara khusus telah disarankan guna meningkatkan komunikasi etis dalam kelompok. Maksud dari perangkat-perangkat ini adalah kriteria etika yang biasa dan standar dalam etika komunikasi. Cheney dan Tompskins merujuk pada Henry W. Johnstone Jr., untuk mengigat standar-standar etika yang mereka anjurkan guna memandu komunikasi kelompok. Empat tugas keetikaan Johnstone: Keteguhan hati, keterbukaan, kelemah lembutan, dan keharuan , dimodifikasi oleh Cheney dan Tompkins untuk diterapkan dalam konteks komunikasi kelompok antara lain:
• Kehati-hatian, Komunikator dalam kelompok seharusnya menggunakan kemampuan persuasifnya sendiri untuk menilai secara menyeluruh pesan-pesan yang jelas dan yang tersembunyi dari organisasi tersebut dan harus menghindari penerimaan atas pandangan konvensional secara otomatis dan tanpa berpikir.
• Mudah untuk dicapai, Komunikator dalam organisasi harus terbuka terhadap kemungkinan diubahnya pesan dari orang lain dari orang yang dibujuk. Keyakinan yang kita pegang secara dogmatis atau pandangan berfokus sempit yang membutakan kita terhadap informasi yang berguna,pandangan yang berbeda tentang suatu masalah, atau penyelesaian alternatif,perlu diseimbangkan atau dikurangi.
• Tanpa kekerasan, penipuan ,terang-terangan atau pun tidak, terhadap orang lain berdasarkan etika tidak diinginkan. Apa bentuk-bentuk penipuan yang tersembunyi yang mungkin terjadi dalam konteks kelompok? anggota juga harus menghindari penggunaan sudut pandang persuasif yang menganjurkan suatu sikap yang masuk akal.
• Empati, Komunikator empatis benar-benar mendengarkan argumen, opini, nilai dan asumsi orang lain, terbuka terhadap perbedaan pendapat, mengesampingkan cetusan streosip berdasarkan julukan atau isyarat non verbal, dan menghargai hak semua orang sebagai person untuk memegang pandangan yang berbeda. Dalam latar kelompok Empati melibatkan keseimbangan kepentingan individu dan kepentingan kelompok.

Gary Kreps menganjurkan apa yang ia sebut “tiga prinsip penutup banyak hal” yang ia anggap berguna “untuk mengevaluasi etika relative komunikasi organisasi internal dan eksternal. prinsip penutup ini berakar pada nilai kejujuran, menghindari dan menyakiti, dan keadilan.
• Anggota kelompok tidak boleh dengan sengaja menipu satu sama lain, seperti contohnya memalsukan laporan dan menyembunyikan informasi yang relevan dari badan-badan pengaturan pemerintah.
• Komunikasi anggota kelompok tidak boleh dengan sengaja menyakiti anggota kelompok lain atau anggota lingkungan organisasi yang relevan.
• Anggota kelompok harus diperlukan secara adil. Pepatah “perlakuan yang sama bagi semua” mungkin tidak cocok dengan setiap situasi. kreps menyatakan, “keadilan, seperti prinsip kejujuran dan menghindari kerusakan, merupakan prinsip etika relative yang harus dievaluasi dalam konteks organisasi tertentu.

C. Dimensi Etika Komunikasi.

Etika komunikasi selalu dihadapkan dengan berbagai masalah, yaitu antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab terhadap pelayanan publik itu. Etika komunikasi memilik tiga dimensi yang terkait satu dengan yang lain, yaitu


1. Aksi komunikasi
Aksi komunikasi yaitu dimensi yang langsung terkait dengan perilaku aktor komunikasi. Perilaku aktor komunikasi hanya menjadi salah satu dimensi etika komunikasi, yaitu bagian dari aksi komunikasi. Aspek etisnya ditunjukkan pada kehendak baik ini diungkapkan dalam etika profesi dengan maksud agar ada norma intern yang mengatur profesi. Aturan semacam ini terumus dalam deontologi jurnalisme.
Mudah sekali para aktor komunikasi mengalihkan tanggung jawab atau kesalahan mereka pada sistem ketika dituntut untuk mempertanggungjawabkan elaborasi informasi yang manipulatif, menyesatkan publik atau yang berbentuk pembodohan.

2. Sarana
Pada tingkat sarana ini, analisis yang kritis, pemihakan kepada yang lemah atau korban, dan berperan sebagai penengah diperlukan karena akses ke informasi tidak berimbang, serta karena besarnya godaan media ke manipulasi dan alienasi. Dalam masalah komunikasi, keterbukaan akses juga ditentukan oleh hubungan kekuasaan. Pengunaan kekuasaan dalam komunikasi tergantung pada penerapan fasilitas baik ekonomi, budaya, politik, atau teknologi (bdk. A. Giddens, 1993:129). Semakin banyak fasilitas yang dimiliki semakin besar akses informasi, semakin mampu mendominasi dan mempengaruhi perilaku pihak lain atau publik. Negara tidak bisa membiarkan persaingan kasar tanpa bisa membiarkan persaingan kasar tanpa penengah diantara para aktor komunikasi maupun pemegang saham. Pemberdayaan publik melalui asosiasi warga negara, class action, pembiayaan penelitian, pendidikan untuk pemirsa, pembaca atau pendengar agar semakin mandiri dan kritis menjadi bagian dari perjuangan etika komunikasi.

3. Tujuan
Dimensi tujuan menyangkut nilai demokrasi, terutama kebebasan untuk berekspresi, kebebasan pers, dan juga hak akan informasi yang benar. Dalam negara demokratis, para aktor komunikasi, peneliti, asosiasi warga negara, dan politisi harus mempunyai komitmen terhadap nilai kebebasan tersebut. Negara harus menjamin serta memfasilitasi terwujudnya nilai tersebut.

D. Etika “Group think”
“Groupthink” (berpikir kelompok) adalah penamaan kolektif yang digunakan psikolog sosial irving Janis untuk mendeskripsikan sifat kelompok kecil yang proses penyelesaian masalah dan penentuan kebijakannya secara khas menghasilkan ketidakefektifan, keputusan yang bermutu rendah, dan gagal mencapai sasaran. Janis menganalisis catatan-catatan historis, laporan-laporan pengamat tentang pembicaraan tentang sejumlah keputusan sebenarnya yang menimbulkan bencana-bencana semacam itu. dia mengidentifikasi delapan gejala utama yang menandai “berpikir kelompok”
• hindari “ilusi kekebalan” yang mendukung ‘optimisme yang berlebihan dan mendorong pengambilan risiko yang ekstrem”.
• hindari rasionalisasi yang menghalangi anggota menilai kembali asumsi dasar mereka sebelum menegaskan lagi komitmen terhadap keputusan sebelumnya.
• hindari “kepercayaan tanpa keraguan terhadap moralitas yang melekat pada kelompok”, kepercayaan yang mencondongkan anggota untuk “mengabaikan konsekuensi-konsekuensi etika dan moral dari keputusan mereka”.
• hindari menstereotipkan pandangan lawan sebagai “terlalu jahat untuk menjamin upaya-upaya sejati untuk bernegosiasi, atau sebagai terlalu lemah dan bodoh” untuk mengagalkan usaha anda melawan mereka.
• hindari tekanan yang membuat para anggota merasa tidak loyal jika mereka mengungkapkan “argument-argumen yang kuat terhadap setiap stereotip, ilusi, atau komitmen kelompok”.
• hindari penyensoran sendiri yang meminimumkan pentingnya keraguan atau argument bandingan mereka sendiri bagi setiap orang.
• hindari “ilusi kebulatan suara bersama mengenai penilaian yang sesuai dengan pandangan meyoritas”. Ilusi ini hasil dari “penyensoran sendiri atas penyimpangan” dan dari “asumsi yang salah bahwa diam berarti setuju”.
• Hindari timbulnya “penjaga pikiran yang diangkat sendiri”, yaitu, anggota-anggota “yang melindungi kelompok dari informasi berlawanan yang mungkin menghancurkan kepuasan diri tentang efektivitas dan moralitas keputusan mereka”.

BAB III

A. Kesimpulan.
Pada dasarnya etika komunikasi kelompok tidak berbeda begitu banyak dengan etika komunikasi antarpribadi ataupun organisasi, aturan-aturan etika seperti kejujuran dan kehati-hatian serta tidak kecurangan yang disengaja, merupakan hal krusial dalam etika komunikasi kelompok. Hanya dalam etika komunikasi kelompok harus diperhatikan patisipan yang disampaikan pesan. Diperlukan sikap adil dan saling mendengarkan diantara anggota partisipan agar komunikasi yang terjadi bisa berjalan dengan baik dan sehat.

No comments:

Post a Comment